Jumat, 11 Januari 2013

Antara Intelek dan Intuisi


Henri Bergson adalah seorang filsuf ternama di abad 20 yang menuliskan tentang metafisika. Baginya pengetahuan yang mengabsolutkan adalah pengetahuan yang karena intuisi dan pemikiran rasional merupakan suatu pemikiran yang lebih banyak salah atau palsu.. Ia memperdebatkan bahwa intuisi itu lebih dalam dari intelek.
Intuisi, menurutnya, merupakan metode “berpikir dalam durasi” dan selalu mencerminkan adanya realitas yang terus mengalir. Untuk menjelaskan lebih dalam akan filsafatnya, Bergson membedakan dua dasar pemikirannya yaitu intuisi dan pemikiran konseptual. Intuisi dan intelek dapat dikombinasikan untuk mendapatkan pengetahuan dinamis akan realitas. Bergson memandang bahwa intelek itu sebagai suatu instrumen atau alat yang digunakan untuk membantu atau meningkatkan kehidupan.
Mengenai waktu, Bergson membedakan dua jenis waktu, yaitu waktu murni dan waktu matematis. Waktu murni merupakan durasi yang sebenarnya sedangkan waktu matematis adalah durasi yang terukur. Sifat waktu murni itu continu dan tak dapat dibagi dan waktu matematis sebaliknya yang dapat dibagi menjadi beberapa unit dan interval. Hubungan antara kedua waktu ini tidak seimbang. Analisa matematis terhadap waktu murni akan membuat kekacauan dalam waktu. Waktu murni tidak bisa diintelektualisasi karena dengan mengalami durasinya itu berarti memalsukannya. Waktu murni hanya bisa dialami secara intuitif bukan intelektual. Bergson juga mengatakan kemudian bahwa intuisilah yang bisa menerangkan realitas hidup dan bukan konsep-konsep intelek .
Eksistensi waktu itu dapat menerangkan mengapa benda-benda itu tidak terjelaskan. Waktu sebagai durasi menjelaskan mengapa benda-benda yang tak terjelaskan kemudian bisa menjadi terjelaskan, dan begitu juga sebaliknya. Jika waktu tidak exsis, secara teoritis, maka segala sesuatu dapat dijelaskan. Oleh karena itu dengan ketidakjelasan akan segala sesuatu, kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa hidup dapat berubah dan perubahan yang terjadi menunjukan adanya kebebasan dalam bertindak. Kebebasan ini merupakan pengalaman dari intuisi.
Dalam realitas sehari-hari, kadang sesuatu yang nisbi atau pasti atau dengan ilmu pengetahuan sepertinya masih kurang pasti dan sering salah maka untuk dapat melihat lebih jelas dan menyeluruh diperlukan suatu suplemen yaitu intuisi. Dalam pengertian ini ada dua argumen yang berbeda yang berfungsi sama-sama untuk mengetahui sesuatu. Dua hal tersebut adalah karakteristik dari intelek yang menggunakan berbagai simbol untuk mengekspresikan temuannya dan menghasilkan suatu pengetahuan yang relatif. Kemudian yang kedua adalah proses dari intuisi di mana kita masuk ke dalam sesuatu dan mengindentifikasikan diri kita dengannya lewat rasa simpati intelek. Hal ini seperti kita mengindentifikasikan diri kita sebagai aktor dalam novel yang kita baca. Tidak ada simbol dan pengetahuan yang didapatkan itu mutlak dan sempurna. Inilah metode yang di sebut metafisika.
Intelek dan intuisi adalah dua jenis pengetahuan yang berbeda. Prinsip-prinsip sains dimasukan dalam kategori intelek dan prinsip-prinsip metafisika merupakan intuisi. Sains dan filsafat dapat disatukan dan akan menghasilkan pengetahuan yang intelektual dan intuitif. Pengetahuan semacam ini dapat menyatukan dua persepsi realitas yang berbeda.
Bergson mengatakan bahwa intuisi itu jangan disamakan dengan perasaan dan emosi secara harafiah. Kita harus melihatnya sebagai sesuatu yang bergantung pada kemampuan khusus yang didapatkan dari ilmu non-alam. Intuisi itu sepertinya suatu tindakan atau rentetan dari tindakan-tindakan yang berasal dari pengalaman. Intuisi ini hanya bisa didapatkan dengan melepaskan diri dari tuntutan-tuntutan tindakan, yaitu dengan membenamkan diri dengan kesadaran spontan.
Satu hal yang dicapai intuisi dan disebut sebagai objeknya adalah kepribadian diri kita. Dalam hal ini Bergson ingin mengatakan bahwa kenyataan absolut itu yang dikuak oleh intuisi metafisis adalah waktu yang tidak pernah habis. Mengapa? Karena kita dapat menemukan kepribadian kita dengan berjalannya waktu dan proses untuk sampai pada perubahan sepertinya sulit untuk berhenti. Inilah yang dimaksudkan bahwa dengan intuisi kita akan mendapatkan bentuk pengetahuan yang menyatakan realitas itu continu dan tak dapat terbagi. Realitas akan selalu berubah karena dalam hidup manusia akan selalu ada kebebasan akan kreativitas.
Akhirnya pandangan Bergson ini lebih banyak dipandang sebagai suatu pandangan anti-intelektualisme walaupun Bergson sendiri menyangkalnya dan mengatakan bahwa metafisikanya merupakan suatu pelengkap dan bukan lawan dari rasionalisme. Intelek memang mampu memberikan pengetahuan kepada kita tetapi lebih baik lagi bila pengetahuan itu juga didapatkan dengan intuisi. Bergson mengajak kita untuk lepas dari konsep analisis yang kemungkinan lebih banyak gagalnya dan menyarankan untuk menggunakan intuisi karena dengan intuisilah kita dengan sendirinya akan sukses.
Kontribusi Bergson dalam dunia filsafat terletak pada pemahaman kebebasan manusia untuk berkreativitas secara realistik. Pandangannya memang tidak terlalu berpusat pada pikiran atau rasio melainkan ia lebih menekankan pengalaman. Dengan pengalaman manusia akan mengkonstruksi eksperimen-eksperimen saintifik yang realistis.

TANGGAPAN
Setelah menganalisa pemikiran dari Bergson memang disadari bahwa dia lebih menekankan proses intuitif sebagai proses menemukan realitas. Banyak kritikus menganggapnya sebagai filsuf anti intelektualisme dan ada juga yang menganggap filsafatnya ini merupakan suatu proyeksi dari personal psikologinya yang dibawa ke luar atau ke dunia. Hal seperti ini terjadi karena proses menemukan realitas dianggap subjektif dan objektivitas dicoba direduksi.
Untuk menekuni filsafat Bergson ini kita harus melatih intuisi dengan berbagai pengalaman hidup. Pengalaman haruslah dibangun berdasarkan informasi-informasi yang ditangkap melalui experimen-experimen saintific. Dengan pengalaman itu dapat diketahui bahwa Bergson sama sekali tidak menghilangkan intelektualisme melainkan memperdalamnya. Sekali lagi metafisikannya merupakan pelengkap intelektualisme.

Minggu, 25 November 2012

Keikhlasan Menembus Ruang dan Waktu


Filsafat adalah olah pikir. Filsafat itu menembus ruang dan waktu, sehingga objek filsafat yakni segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dapat digali. Namun jangan sampai karena anggapan segala sesuatu sebagai objek filsafat, baik yang ada dan yang mungkin ada adalah kajian filsafat, lantas kita berfilsafat yang sesat. Ketika muncul pertanyaan bagaimana wujud Tuhan. Itu berarti pikiran lebih mendominasi daripada hati, pikiran telah menjadi raja dalam diri manusia tersebut. Padahal sejatinya filsafat itu tetap meletakkan Tuhan dalam hati yang menjadi raja, penguasa diri kita.
Manusia yang berilmu lebih tinggi dimensinya dibanding dengan yang tidak berilmu, karena dengan ilmu kita akan mengerti makna hidup, dengan ilmu kita mengerti akan dunia dan seisinya hingga batas pikiran kita. Sedangkan orang yang tidak berilmu hanya akan pasrah pada kehidupannya. Kita menggapai ilmu adalah dengan berpikir, dan ilmu meliputi yang ada dan mungkin ada sangatlah luas hingga batas pikiran kita. Untuk itu, upaya untuk meraih ilmu seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya adalah dengan meningkatkan kemampuan berpikir kita. Dari pola pikir inilah juga yang akan membedakan dimensi kita dengan orang lain. Upaya ini juga harus diimbangi dengan hati yang ikhlas, sehingga kita tidak hanya sebagai manusia berilmu tetapi juga bernurani.
Dalam beribadah kepada Tuhan kita hendaknya diikuti dengan ikhlas. Ikhlas tidak hanya di dalam hati, tetapi juga dalam pikiran, dan keduanya saling berhubungan. Ketika kita ingin menggapai ikhlas dalam pikiran, kita juga memerlukan ikhlas dalam hati.
Diri kita adalah kontradiksi. Jika kita mengatakan 'aku' adalah 'aku', 'aku' yang diucapkan pertama sudah berbeda dengan 'aku' yang kedua dikarenakan ruang dan waktu. Ruang yang berbeda-beda dan waktu yang terus selalu berjalan akan menjadikan segala sesuatunya kontradiksi, karena hidup adalah ruang dan waktu, dan ruang dan waktu adalah kontradiksi maka segala sesuatu yang tidak terlepas dari ruang dan waktu adalah kontradiksi.
Kontradiksi antara hati dan tindakan dapat terjadi ketika apa yang dirasakan dalam hati tidak sesuai dengan yang dilakukan atau dapat dikatakan saling bertentangan, maka inilah keadaan disharmoni di dalam diri. Keadaan dimana sesuatu itu tidak saling bersesuaian. Hal ini terjadi dikarenakan kurangnya keyakinan di dalam hati, sehingga ragu-ragu mengambil tindakan dan akhirnya berbeda dengan apa yang dilakukan. Untuk itu perlu adanya keyakinan di dalam hati dan tetap berlandaskan pada Tuhan Yang Maha Esa, agar setiap tindakan yang kita ambil merupakan kebaikan, kebenaran, serta terdapat kebermanfaatan sebagai ibadah karena-Nya.
Indahnya hidup adalah harmoni, nikmatnya hidup adalah harmoni, sehatnya hidup adalah harmoni. Harmoni berarti tidak berlebihan dan tidak kekurangan, saling mengisi agar tidak kosong, saling melengkapi, saling mengasihi, saling mengerti, serta saling memiliki kesadaran. Dalam menggapai harmoni berarti menyeimbangkan antara hati dan pikiran, menyeimbangkan perbuatan dan perkataan, menyeimbangkan hak dan kewajiban, serta menyeimbangkan urusan akhirat dan duniawi.
Hidup adalah kontradiksi, dan kontradiksi adalah arah dari ilmu. Jika kita ingin menggapai ilmu, maka kita harus menyiapkan pikiran kita dengan kontradiksi, tetapi kontradiksi hanya boleh ada di dalam pikiran, tidak untuk di hati, karena hati kita haruslah bersifat 'tetap', 'tetap' untuk yakin kepada Allah SWT. Di sinilah ranah tertinggi yang tidak boleh dilangkahi yaitu ranah spiritual. Jika terjadi pertentangan atau kontradiksi di dalam hati kita, maka pikiranlah yang telah menguasai hati kita, dan jika ini terjadi maka hidup kita akan jauh dari ketenangan tanpa landasan spiritual. Untuk itu, jagalah hati kita untuk istiqomah pada Allah SWT, karena kepada-Nyalah tujuan hidup kita.

Kamis, 08 November 2012

Filsafat, Agama, dan Ilmu Pengetahuan


Filsafat dan agama
Dalam buku Filsafat Agama karangan Dr. H. Rosjidi diuraikan tentang perbedaan filsafat dengan agama, sebab kedua kata tersebut sering dipahami secara keliru. Filsafat berarti berpikir. Menurut William Temple, filsafat adalah menuntut pengetahuan untuk memahami. Filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang. Filsafat dapat diumpamakan seperti air telaga yang tenang dan jernih dan dapat dilihat dasarnya. Seorang ahli filsafat, jika berhadapan dengan penganut aliran atau paham lain, biasanya bersikap lunak. Filsafat, walaupun bersifat tenang dalam pekerjaannya, sering mengeruhkan pikiran pemeluknya. Ahli filsafat ingin mencari kelemahan dalam tiap-tiap pendirian dan argumen, walaupun argumenya sendiri.
Agama berarti mengabdikan diri, yang penting ialah hidup secara beragama sesuai dengan aturan-aturan agama itu. Agama menuntut pengetahuan untuk beribadat yang terutama merupakan hubungan manusia dengan Tuhan. Agama banyak berhubungan dengan hati. Agama dapat diumpamakan sebagai air sungai yang terjun dari bendungan dengan gemuruhnya. Agama, oleh pemeluk-pemeluknya, akan dipertahankan dengan habis-habisan, sebab mereka telah terikat dan mengabdikan diri. Agama, di samping memenuhi pemeluknya dengan semangat dan perasaan pengabdian diri, juga mempunyai efek yang menenangkan jiwa pemeluknya. Filsafat penting dalam mempelajari agama.
Filsafat dan ilmu pengetahuan
Oleh Louis Kattsoff dikatakan, bahasa yang dipakai dalam filsafat dan ilmu pengetahuan dalam beberapa hal saling melengkapi. Bahasa yang dipakai dalam filsafat mencoba untuk berbicara mengenai ilmu pengetahuan. Apa yang harus dikatakan oleh seorang ilmuwan mungkin penting pula bagi seorang filsuf.
Filsafat dalam usahanya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pokok yang diajukan harus memperhatikan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dalam usahanya menemukan rahasia alam kodrat haruslah mengetahui anggapan kefilsafatan mengenai alam kodrat tersebut. Filsafat mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari ilmu pengetahuan dengan suatu cara yang berada di luar tujuan dan metode ilmu pengetahuan.
Para filsuf terlatih di dalam metode ilmiah, dan sering pula menuntut minat khusus dalam beberapa ilmu sebagai berikut:
1.      Historis, mula-mula filsafat identik dengan ilmu pengetahuan, sebagaimana juga filsuf identik dengan ilmuwan.
2.      Objek material ilmu adalah alam dan manusia. Sedangkan objek material filsafat adalah alam, manusia dan ketuhanan.
Kesimpulan
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu, dengan mencari sebab-sebab terdalam, berdasarkan kekuatan pikiran manusia sendiri. Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan mengenai suatu hal tertentu (objek atau lapangannya), yang merupakan kesatuan yang sistematis, dan memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan dengan menunjukkan sebab-sebab hal itu.
Filsafat mempunyai metode dan sistem sendiri dalam usahanya untuk mencari hakikat dari segala sesuatu, dan yang dicari ialah sebab-sebab yang terdalam. Ilmu-ilmu pengetahuan dirinci menurut lapangan atau objek dan sudut pandang. Objek dan sudut pandang filsafat disebut juga dalam definisinya, yaitu “segala sesuatu”.
Alat yang kita gunakan dalam usaha kita untuk mencapai kebijaksanaan itu adalah pikiran kita sendiri. Ini membedakan filsafat dari agama yang juga mengenai segala sesuatu, tetapi yang berdasarkan wahyu Tuhan. Filsafat tidak berdasarkan wahyu Tuhan, tidak meminta pertolongan dari Kitab Suci, tetapi berdasarkan asas-asas dan dasar-dasarnya hanya dengan cara analisis-analisis oleh pikiran kita sendiri. Justru karena itu, filsafat dapat merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum, bagi setiap orang, terserah agama mana yang dianutnya. Akan tetapi, ini pun kelemahan filsafat, jika hanya filsafat saja yang cukup dipakai sebagai pegangan hidup, pandangan hidup, maka ini tidak cukup, sebab banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan 100% memuaskan oleh filsafat, sedangkan filsafat sendiri dalam usahanya mencari hakikat dari seluruh kenyataan menunjuk kepada Tuhan sebagai sumber terakhir dan sebab pertama. Jadi, sebetulnya filsafat dan agama tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi.
Sumber: http://peta-ilmu.blogspot.com/2011/03/pengertian-filsafat-cabag-cabang.html

Naturalisme dalam Filsafat


Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain, filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.
Sejarah perjalanan perkembangan keyakinan dan pemikiran umat manusia tentang pendidikan telah melahirkan sejumlah ajaran filsafat yang melandasinya. Ajaran filsafat adalah hasil pemikiran sesorang atau beberapa ahli filsafat tentang sesuatu secara fundamental. Dalam memecahkan suatu masalah terdapat pebedaan di dalam penggunaan cara pendekatan, hal ini melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang berbeda pula, walaupun masalah yang dihadapi sama. Perbedaan ini dapat disebabkan pula oleh faktor-faktor lain seperti latar belakang pribadi para ahli tersebut, pengaruh zaman, kondisi dan alam pikiran manusia di suatu tempat.
Ajaran filsafat yang berbada-beda tersebut, oleh para peneliti disusun dalam suatu sistematika dengan kategori tertentu, sehingga menghasilkan klasifikasi. Dari sinilah kemudian lahir apa yang disebut aliran filsafat. Banyak pemikiran-pemikiran dari para ahli filsafat masa lampau yang menghasilkan banyak aliran dalam filsafat. Salah satu aliran filsafat yang terkenal adalah naturalisme.
Aliran filsafat naturalisme lahir sebagai reaksi terhadap aliran filasafat pendidikan Aristotalian-Thomistik, dengan tokohnya antara lain. J.J. Rousseau (1712-1778) dan Schopenhauer (1788-1860 M). Naturalisme lahir pada abad ke-17 dan mengalami perkembangan pada abad ke-18. Naturalisme berkembang dengan cepat di bidang sains.Ia berpandangan bahwa “Learned heavily on the knowledge reported by man’s sense”.
Secara definitif naturalisme berasal dari kata “nature”. Kadang pendefinisikan “nature” hanya dalam makna dunia material saja, sesuatu selain fisik secara otomatis menjadi “supranatural”. Tetapi dalam realita, alam terdiri dari alam material dan alam spiritual, masing-masing dengan hukumnya sendiri. Era Pencerahan, misalnya, memahami alam bukan sebagai keberadaan benda-benda fisik tetapi sebagai asal dan fondasi kebenaran.Ia tidak memperlawankan material dengan spiritual, istilah itu mencakup bukan hanya alam fisik tetapi juga alam intelektual dan moral.
Salah satu ciri yang paling menakjubkan dari alam semesta adalah keteraturan. Benak manusia sejak dulu menangkap keteraturan ini. Terbit dan tenggelamnya Matahari, peredaran planet-planet dan susunan bintang-bintang yang bergeser teratur dari malam ke malam sejak pertama kali manusia menyadari keberadaannya di dalam alam semesta, hanya merupakan contoh-contoh sederhana. Ilmu pengetahuan itu sendiri hanya menjadi mungkin karena keteraturan tersebut yang kemudian dibahasakan lewat hukum-hukum matematika. Tugas ilmu pengetahuan umumnya dapat dikatakan sebagai menelaah, mengkaji, menghubungkan semua keteraturan yang teramati. Ilmu pengetahuan bertujuan menjawab pertanyaan bagaimana dan mengapa.Namun khusus untuk kosmologi, pertanyaan ‘mengapa’ ini di titik tertentu mengalami kesulitan yang luar biasa.
Naturalisme merupakan teori yang menerima “nature” (alam) sebagai keseluruhan realitas. Istilah “nature” telah dipakai dalam filsafat dengan bermacam-macam arti, mulai dari dunia fisik yang dapat dilihat oleh manusia, sampai kepada sistem total dari fenomena ruang dan waktu. Natura adalah dunia yang diungkapkan kepada kita oleh sains alam. Istilah naturalisme adalah sebaliknya dari istilah supernaturalisme yang mengandung pandangan dualistik terhadap alam dengan adanya kekuatan yang ada (wujud) di atas atau di luar alam.
Aliran filsafat naturalisme didukung oleh tiga aliran besar yaitu realisme, empirisme dan rasionalisme. Pada dasarnya, semua penganut naturalisme merupakan penganut realisme, tetapi tidak semua penganut realisme merupakan penganut naturalisme. Imam Barnadib menyebutkan bahwa realisme merupakan anak dari naturalisme. Oleh sebab itu, banyak ide-ide pemikiran realisme sejalan dengan naturalisme. Salah satunya adalah nilai estetis dan etis dapat diperoleh dari alam, karena di alam tersedia kedua hal tersebut.


TOKOH DAN PANDANGAN ALIRAN FILSAFAT NATURALISME
a.       Plato (427 – 347 SM)
Salah satu anasir dasar adalah perbedaan yang nyata antara gejala (fenomena) dan bentuk ideal (eidos), dimana Plato berpandangan bahwa, disamping dunia fenomen yang kelihatan, terdapat suatu dunia lain, yang tidak kelihatan yakni dunia eidos. Dunia yang tidak kelihatan itu tercapai melalui pengertian (theoria). Apa arti eidos dan hubungannya dengan dunia fenomena bahwa memang terdapat bentuk-bentuk yang ideal untuk segala yang terdapat dibumi ini. Tetapi asalnya tidak lain daripada dari sumber segala yang ada, yakni yang tidak berubah dan kekal, yang sungguh-sungguh indah dan baik yakni budi Ilahi (nous), yang menciptakan eidos-eidos itu dan menyampaikan kepada kita sebagai pikiran. Sehinnga dunia eidos merupakan contoh dan ideal bagi dunia fenomena.
b.      Aristoteles (384 – 322 SM)
Aristoteles menyatakan bahwa mahluk-mahluk hidup didunia ini terdiri atas dua prinsip:
1.      Prinsip formal, yakni bentuk atau hakekat adalah apa yang mewujudkan mahluk hidup tertentu dan menentukan tujuannya.
2.      Prinsip material, yakni materi adalah apa yang merupaakn dasar semua mahluk.
Sesudah mengetahui sesuatu hal menurut kedua prinsip intern itu pengetahuan tentang hal itu perlu dilengkapi dengan memandang dua prinsip lain, yang berada diluar hal itu sendiri, akan tetapi menentukan adanya juga. Prinsip ekstern yang pertama adalah sebab yang membuat, yakni sesuatu yang menggerakan hal untuk mendapat bentuknya. Prinsip ekstern yang kedua adalah sebab yang merupakan tujuan, yakni sesuatu hal yang menarik hal kearah tertentu. Misalnya api adalah untuk membakar, jadi membakar merupakan prinsip final dari api. Ternyata pandangan tentang prisnip ekstern keuda ini diambil dari hidup manusia, dimana orang bertindak karena dipengaruhi oleh tujuan tertentu, pandangan ini diterapkan pada semau mahluk alam. Seperti semua mahluk manusia terdiri atas dua prinsip, yaitu materi dan bentuk.
Materi adalah badan, karena badan material itu manusia harus mati, yang memberikan bentuk kepada materi adalah jiwa. Jiwa manusia mempunyai beberapa fungsi yaitu memberikan hidup vegetatif (seperti jiwa tumbuh-tumbuhan), lalu memberikan hidup sensitif (seperti jiwa binatang) akhirnya membentuk hidup intelektif.
c.       William R. Dennes. (Filsuf Modern)
Beberapa pandangan pandangannya menyatakan bahwa:
1.      Kejadian dianggap sebagai ketegori pokok, bahwa kejadian merupakan hakekat terdalam dari kenyataan, artinya apapun yang bersifat nyata pasti termasuk dalam kategori alam.
2.      Yang nyata ada pasti bereksistensi, sesuatu yang dianggap terdapat diluar ruang dan waktu tidak mungkin merupakan kenyataan dan apapun yang dianggap tidak mungkin ditangani dengan menggunakan metode-metode yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam tidak mungkin merupakan kenyataan.
3.      Analisa terhadap kejadian-kejadian, bahwa faktor-faktor penyusun seganap kejadian ialah proses, kualitas, dan relasi.
4.      Masalah hakekat terdalam merupakan masalah ilmu, bahwa segenap kejadian baik kerohanian, kepribadian, dan sebagainya dapat dilukiskan berdasarkan kategorikategori proses, kualitas dan relasi. Pengetahuan ialah memahami kejadian-kejadian yang saling berhubungan, pemahaman suatu kejadian, atau bahkan kenyataan, manakala telah mengetahui kualitasnya, seginya, susunanya, satuan penyusunnya, sebabnya, serta akibat-akibatnya.

Sumber: